Monday, October 14, 2013

My New SoundCloud Account

Hanya mau announce tentang akun baru SoundCloud saya.. (mau announce sesuatu yang lain belum siap .. *eh, curhat*)

Jadi ceritanya berbulan-bulan ini saya terus aja asik nge-SoundCloud ketimbang nge-blog. Habisnya maen-maenin SoundCloud lebih simpel, tinggal rekam suara, mixing dikit, trus upload deh. Kalo nge-blog kan kudu mikir mau ide apa buat ditulis, belum bingung merangkai kata-katanya, trus pas dibaca biasanya berasa aneh dan di-edit lagi, trusss..sampe bisa berhari-hari baru berani buat posting.

Eh, ini sih pendapat blogger males ya, jangan ditiru, apalagi dijadikan contoh (ya sama aja kali). Tapi mungkin pada dasarnya saya cuman lagi asik sama mainan baru, jadinya sebelum bosen ya masih dibela-belain aja memihak sama mainan baru. Padahal secara teknis, yang namanya bikin SoundCloud sama nulis di blog sama aja kerja kerasnya (minimal buat saya sendiri). Kecuali ya kalo kitanya sendiri ngga peduli hasilnya mau dibikin bagus apa ngga (jadi udah pede yang dibikin selama ini udah bagus budddd...? :p )

Realitanya sih pas mau bikin SoundCloud, saya ngga pernah pusing-pusing, tinggal pilih lagu yang disuka, trus rekam deh dua-tiga jam. Nah, bagian yang paling ribet pas mixing-nya aja, tapi itu juga ngga lebih dari sehari, langsung bisa di-upload. Biasanya perasaan puas ada pas lagi mau upload, berasa habis bikin sesuatu yang apa gitu (apaaaa...hayoo?). Yang pasti mirip kalo pas habis bikin foto-foto, bisa jadi dokumentasi buat dilihat (atau didengar) nanti.

Anyway, cerita saya jadi muter-muter gini padahal cuman mau bilang, karena frekuensi yang terlalu aktif dalam memproduksi suara ketimbang tulisan, jadinya akun SoundCloud pertama yang pernah dibikin udah kepenuhan gitu (maklum yang gratisan, jadi ada limitnya :( ) . Nah, karena masih belum ngerasa perlu plus belum ngerti juga gimana bikin akun yang premium, maka saya bikin aja lagi akun yang baru. Toh, biar dalam satu akun ngga perlu kebanyakan sound-nya juga (alasan biar ngga musti bayar-membayar).

Nah, mana akun barunya..? Itu sebenernya dari tadi udah disisipin di tulisan SoundCloud sejak awal tulisan (seperti yang barusan). Biar lebih jelas lagi, saya kasih link isi-isi sound-nya. Sementara ini baru dikit sih, ya namanya aja juga masih baru. Here they are .. jangan lupa di-play ya, ngga punya efek samping buat kesehatan kok.. :D

My latest track :
Marry Your Daughter - Brian McKnight (Cover by Septiawan) 

Other tracks :
Lucky - Jason Mraz ft. Colbie Caillat (Cover by @winalesmana & @budiholics)

Atlas - Coldplay | Ost. Hunger Games : Catching Fire (Cover by Septiawan)

Friday, September 27, 2013

27th on Sep 27th

Age is a question of mind over matter.  If you don't mind, it doesn't matter.  
~ Leroy "Satchel" Paige
:)

September 27th, 2013

Baru mendapat ucapan yang beruntun dari keluarga tercinta dan teman-teman, ngga ada kesan yang ditinggalkan setelahnya selain joyful a lot, karena semua perhatian dari orang-orang terkasih itu. 

Sebenarnya sudah lama saya ngga bersikap terlalu sentimentil dengan momen sekali setahun ini. Di samping memang ngga terlalu menjadikannya sebagai kebiasaan, juga kok rasanya ngga pantas lagi ya dengan usia yang udah di dua puluhan akhir ini (hehe, sok dewasa banget yak, padahal sendirinya paling kecil di keluarga)

Jujur ngga ada kebiasaan perayaan atau sesuatu yang khusus di setiap tahunnya. Paling mungkin hanyalah menerima ucapan selamat dari keluarga dan teman. Lagipula selain sebagai bentuk perhatian, saya memaknai semua ucapan itu sebagai pengingat yang objektif. Kenapa objektif, karena kalo saya sendiri yang ditanya sudah merasa tua atau belum, ya pasti pengennya bilang masih muda terus kan :p

The purpose of life is a life of purpose.  
~Attributed to both Ludwig Wittgenstein and Robert Byrne

Pengingat usia setahun sekali ini juga bisa membuat saya kembali berpikir kalau hidup ini harus punya tujuan. Secara general tujuan hidup saya adalah bisa bermanfaat sebanyak mungkin bagi sekeliling saya. Secara khusus, hmm.. ada lah, hehe.. Memang biasanya saya ngga memperhatikan fokus pada satu tanggal kelahiran saja, tapi lebih banyak ke periode setelahnya. Berubah atau ngga, meningkat atau menurun.

Live as long as you may, the first twenty years are the longest half of your life.  
~Robert Southey, The Doctor

Yeahh..memang harusnya kita lebih banyak menikmati hidup ketimbang terlalu kuatir dengan penambahan usia yang hanya urusan perhitungan angka. Terus terang bisa sampai di usia sekarang ini saya sudah sangat bersyukur, terlebih dengan banyak hal yang sudah saya dapatkan alami.

Kadang saya suka memperhatikan anak-anak kecil yang perjalanan hidupnya masih teramat panjang. Beban hidup yang mereka hadapi hampir ngga ada. Apa yang mereka jalani masih didominasi dengan hal-hal yang "full of game". Tapi meski begitu berkali-kali saya bilang kepada diri sendiri untuk ngga merasa iri dengan mereka. Bagaimanapun saya sudah melewati fase itu dan sedang berada dalam "a real game". Gotta deal with it!

Youth is a wonderful thing.  What a crime to waste it on children.  
~George Bernard Shaw

Anyway,
meski ngga begitu concern sama birthday thing, tapi sekarang ternyata saya mendapati kalau di tahun ini pada tanggal 27 saya tepat berusia 27 tahun! Hehe.. momen sekali seumur hidup kan? And you know what? I also share my birthday with Google. Nice fact, both of us gotta give present each other :)

Saturday, September 21, 2013

Are You Mature Enough to ... ? (Pt. 1)

Ini kedua kalinya saya mengungkit topik kedewasaan dan menuliskannya di blog. Sebenarnya bukan bermaksud sok dewasa atau merasa sendirinya udah cukup dewasa. Tapi jujur saya sendiri masih mencari arti yang tepat dari kata ‘dewasa’ itu sendiri. Bukan sekedar penjelasan dari suatu kata, tapi lebih banyak ke apa saja bentuk dan contoh sikap kedewasaan itu di kehidupan sehari-hari.

Umm..berat? Ngga juga sih, let’s make this topic sounds simple..

Pertanyaaan seperti ‘sudah cukup dewasakah kamu untuk ... ?“ bisa dilengkapi dengan kata apa saja, misalnya untuk : bersekolah, bekerja, atau bahkan .. menikah? (Eaaaa....).

Sebenarnya dewasa atau ngga nya seseorang untuk melakukan sesuatu itu harusnya ngga selalu berbanding lurus dengan tingkat usianya. Karena memang lebih banyak butuh suatu kesiapan mental yang cukup ketimbang batas usia yang hanya sekedar hitungan angka. Tapi untuk mudahnya di masyarakat kita seringkali memakai batasan umur sebagai acuan tingkat kedewasaan seseorang.

Dalam hal berkendara misalnya.

SIM, sebuah lisensi untuk berkendara di negeri ini, akan diberikan ke siapa saja yang mampu mengendarai kendaraan dan sudah berusia 17 tahun ke atas. Itupun satu jenis SIM bukan serta-merta berlaku untuk semua jenis kendaraan. Suatu aturan yang sebenarnya cukup ketat bagi masyarakat yang ingin berkendara.

Tapi apa yang berlaku sekarang di masyarakat? Kepemilikan SIM seringkali diabaikan untuk seseorang berkendara. Padahal yang perlu digarisbawahi bukanlah ada atau ngga-nya SIM itu sendiri. Tapi bagaimana seseorang dianggap cukup layak untuk memiliki SIM sebagai lisensi untuk berkendara.

Fenomena anak yang masih di bawah umur bebas berkeliaran di jalan raya mengemudikan kendaraan bermotor mungkin bukan hal yang aneh lagi di masyarakat kita. Inilah salah satu contoh bentuk pengindahan (bener ngga bahasanya..??) dari kepemilikan SIM tadi.

Padahal batas usia minimal yang ditetapkan untuk mengemudi ngga hanya untuk alasan safety saja. Tetapi juga menimbang faktor psikis dan tingkat emosi pengemudi itu sendiri.

Memang bukan hal yang susah untuk bisa mengendarai motor atau mobil. Seorang anak yang cukup tangkas belajar mungkin bisa melakukannya meski masih belia (dan kadang beberapa orang tua cukup bangga dengan ini). Tetapi meski begitu, tingkat usia yang belum cukup biasanya diikuti tingkat emosi yang masih labil pula.

Aksi mereka di jalan raya kadang banyak dipengaruhi keinginan aktualisasi diri. Mereka kadang mengabaikan peraturan lalu lintas dengan ngga memakai helm, ngga memperhatikan rambu jalan, bebas menyalip, dan melewati batas kecepatan maksimum. Terlebih lagi, mereka sudah melanggar aturan yang ada sebagai pengemudi di bawah umur dan ngga berlisensi. That's Illegal!

Oke, memang bukan jaminan kalau orang yang sudah melewati usia 17 tahun ngga akan melakukan hal yang sama. Tapi paling ngga pada usia itu seseorang sudah tau konsekuensi dan mampu bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan. Seseorang mungkin juga akan berpikir dulu sebelum melakukan pelanggaran. Yah, itu yang paling penting. Think before you act!

to be continued..

Sunday, September 8, 2013

"Paradise" - A Cover-Video & Lyrics

Ada dua lagu yang saya sukai yang judulnya memakai kata "Paradise", pertama miliknya 'Om' Phill Collins "Another Day in Paradise", sebuah lagu yang pesannya supaya kita lebih aware dengan sesama. Pertama kali saya dengar saat masih kecil, dan lagu ini menjadi musik latar sebuah acara remaja di tv. Awalnya vokal yang khas dari sang penyanyi legendaris itulah yang membuat saya suka lagu ini. Lalu begitu cukup mengerti makna dari lagunya, saya jadi makin suka, dan lagu "Another Day in Paradise" ini seringkali jadi pengisi di playlist music therapy saya. It's a good relaxation song.

Lagu kedua dengan judul "Paradise" yang juga saya suka adalah karya dari sebuah band besar dunia, Coldplay. Meski sama-sama berjudulkan 'surga', tapi lagunya Coldplay ini lebih bermakna tentang save our planet. Bagaimana seharusnya manusia memperlakukan tempat tinggalnya layaknya surga di dunia, dan terus menjaganya demi kehidupan generasi di masa depan..(Hufth..! Dalem juga ya maknanya).

Lagu Coldplay ini sebenarnya punya melodi yang cukup simpel, tapi seperti khasnya lagu-lagu Coldplay yang lain, lagu ini punya aransemen musik yang sangat keren. Sejak pertama kali saya mendengar lagu ini, saya sudah kepikiran untuk bikin covernya, dan akhirnya sekarang jadi juga. Well, karena saya ngga bisa mengupload-nya ke SoundCloud seperti biasa (terkait penggunaan hak cipta dari Coldplay yang rupanya cukup ketat ini), jadi saya bikinlah video liriknya dan cuma bisa puas menaruhnya di blog (karena di Youtube pun saya ngga bisa sembarang menaruh konten Coldplay ini)

So, this is it.. My "Paradise" Cover Video, with lyrics.. Let's save our blue planet!

video

Saturday, August 3, 2013

Kenapa bikin blog, youtube, dan soundcloud?

Saya lagi pingin nulis yang dikit nih (janji deh ngga akan panjang-panjang..)

Ada komen dari temannya teman, yang secara kebetulan mendengar suara saya yang lagi diputar sama teman saya itu .. (yap..bingung kan.. :p )

Mari disederhanakan,
Intinya seseorang yang ngga kenal saya berkomentar setelah tau faktanya bahwa saya suka merekam suara sendiri dalam bentuk cover lagu.
Begini komentarnya, "Ada-ada aja ya teman kamu itu, sampai merekam suaranya sendiri segala"

Reaksi spontan saya waktu itu tentulah sesuatu yang sangat defensif, bahkan cenderung mikir yang macem-macem tentang komentar itu. Saya sampai mendapat kesan kalau saya baru saja dibilang aneh, abnormal, atau mungkin lagi stress??

Tapi berhubung orang yang berkomentar juga ngga ada di depan batang hidung saya (bahkan jauh di seberang laut sana), sayangnya saya ngga bisa langsung menanggapi komentarnya itu. Orangnya aja ngga tau yang mana. Well, subjek dan objeknya bahkan ngga pernah ketemu kan..

Jadi, disini ajalah saya mau menjelaskan kenapa saya sampai niat banget bikin-bikin cover, ngeblog, dan upload-upload youtube..

Sebenarnya alasan saya ya cenderung untuk dokumentasi. Kalo ada yang bilang biar terkenal, mau jadi artis lah atau yang lain..jujur bukan itu tujuan utama saya (toh udah lama saya lakuin ini ngga lantas bikin saya jadi artis juga kok :( )

Kenapa saya bilang untuk dokumentasi, karena orang lain atau bahkan saya sendiri juga ngga ada yang tau sampai kapan saya bisa hidup di dunia ini. Saya ingin suatu saat nanti meski saya ngga ada lagi disini, tetapi dokumentasi tentang saya masih bisa tersimpan dan diakses orang, terutama orang-orang terdekat saya.

That's all..ngga ada alasan yang lebih mewakili lagi kenapa saya bikin blog, youtube, dan soundcloud.

People may die, but memories won't.

Saturday, July 20, 2013

"Walking Away"

Kembali ke belasan tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan akhir tahun 2000, ada sebuah lagu dari Penyanyi R&B asal UK yaitu Craig David yang berjudul "Walking Away". Lagu ini buat saya yang waktu itu juga masih berusia belasan (masih teenager gitu, hehe..) adalah sebuah lagu yang enak banget buat didengar. Meski beraliran R&B tapi tetap easy-listening. Memiliki lirik yang berisi kekecewaan dan ingin pergi dari permasalahan yang ada tapi bukanlah sebuah lagu yang menunjukkan keputus-asaan. Feel so enough for something sucks.

Seperti biasa, untuk lagu-lagu yang saya suka, biasanya saya juga ngga bisa menahan untuk menyanyikan ulang lagunya dengan suara saya sendiri, hehe..well, tapi buat yang tau lagunya mari kita nyanyi sama-sama, karena sudah saya kemas dalam sebuah video lyrics berikut ini :

Walking Away - Craig David (Cover by Budi) | with lyrics

Thanks for watching, don't forget to leave your comment.. :D

Download file mp3 nya di SoundCloud

Sunday, July 14, 2013

Pacific Rim : Suguhan Robot dan Monster Super Besar

Image source : MovieMaze
Prolog
Sebenarnya sudah jarang saya nonton di bioskop, selain karena ngga terlalu ngikutin lagi film-film apa yang baru keluar, harga tiket nonton di kota tempat tinggal saya sekarang lumayan menguras isi dompet (yang isinya memang ngga banyak itu). Saya ngga tau apakah harga tiket nonton memang sudah sedemikian mahalnya sekarang, tapi buat saya, mengeluarkan 40 – 60 ribu Rupiah untuk duduk paling lama dua setengah jam di depan layar besar, harusnya memang untuk alasan yang benar-benar tepat. Maklum anak kos, sayang kan uangnya kalo filmnya kurang worth it.

Terakhir saya benar-benar menunggu film di 2013 ini hanya untuk nonton “Man of Steel”. Karena saya pikir film superhero yang sudah dikenal beberapa generasi itu ngga mungkin tanpa efek khusus yang keren kan. Sempat juga sih nonton “World War Z” yang sebenarnya ngga jauh beda dengan film-film zombie pendahulunya, itu pun saya tonton di bioskop karena ditraktir, jadi ngga masalah (ngga mau rugi banget ya saya). Tapi memang kalo dibandingan dengan masa-masa saat harga tiket masih paling mahal 25 ribu (masa kapankah itu?), nonton bioskop zaman sekarang harus dipikirin banget (se-ngga-nya buat saya pribadi). Kalo sekedar film animasi atau bahkan cuma drama, saya sih mending nyari dvd-nya aja.

"Pacific Rim" : Movie Trailer


Tentang "Pacific Rim"
Nah, awal mula saya nonton “Pacific Rim” ini juga ngga disengaja. Saya yang ngga niat ngikutin perkembangan film di tahun ini lagi iseng aja lihat-lihat jadwal film di situs 21, terus tiba-tiba teman saya merekomendasikan film “Pacific Rim” yang memang lagi ada jadwal mainnya saat itu. Kesan saya pas baru baca judulnya sih langsung kebayang laut, atau film disaster yang latarnya di laut semacam “Poseidon”. Ternyata saya keliru, benar sih latarnya banyak mengambil di laut, tapi ini bukanlah tentang kecelakaan kapal biasa, film yang disutradarai oleh Guillermo del Toro ini (menurut saya) lebih ke kombinasi banyak film yaitu, “Godzilla”, “King Kong”, “Battleship”, “Real Steel”, dan ”Transformer”.

Alur filmnya sendiri bercerita tentang perang antara manusia melawan monster laut yang mengobrak-abrik bumi. Sepanjang durasi film banyak disuguhkan pertempuran monster yang disebut Kaiju (binatang raksasa dalam bahasa Jepang) dan robot logam (yang disebut Jaeger) yang dikendalikan dua manusia. Tokoh utama film ini (selain si monster) adalah seorang mantan co-pilot Jaeger yang bernama Raleigh Becket (diperankan oleh Charlie Hunnam) yang pernah kehilangan kakaknya sendiri (yang juga seorang pilot Jaeger) saat sama-sama bertarung melawan Kaiju. Dari situlah kemudian ceritanya berkembang.

Super Besar atau Extra Large. Itulah kesan saya keseluruhan untuk film ini. Mungkin kecenderungan manusia yang mudah tergugah dengan hal-hal berukuran raksasa lah yang mendasari film ini dibuat. Baik Kaiju maupun Jaeger ngga ada yang ukurannya lebih kecil dari gedung belasan lantai. Tapi memang sih apa serunya melihat pertempuran robot dan monster yang kecil? Terlebih kalo ukurannya raksasa, akibat dari pertempurannya pun akan lebih dahsyat lagi kan.

Apalagi karena imbas dari ukuran Kaiju dan Jaeger yang super guedhe ini selama film banyak sekali ditampilkan kerusakan yang sifatnya massal (ngga kebayang kalo benar-benar terjadi di dunia nyata deh). Kaiju yang ternyata jumlahnya lebih dari satu itu sukses memporak-porandakan kota. Gedung pencakar langit hancur berantakan, jembatan Golden Gate remuk, dan kapal induk seakan cuma mainan. Agak ironis memang, pertempuran yang terjadi untuk mencegah si monster mengamuk akhirnya tetap mengakibatkan kondisi kota yang jadi hancur lebur, dan mungkin saja justru sudah banyak manusia yang jadi korban. Ah, tapi karena ini cuma film, baiknya ngga usah terlalu dipikirin kan ya.

Bisa dipastikan ada begitu banyak special effects yang dipakai pada film ini untuk memvisualisasikan serunya pertempuran Kaiju dan Jaeger. Lagi-lagi karena ukurannya yang serba raksasa, pertarungan lebih banyak disajikan dalam slow motion. Adu kekuatan antara si monster dan sang robot lebih mirip adegan smack down yang penuh pukulan hingga lemparan. Mungkin ini agak mengingatkan saya dengan adegan di film Ultraman dan Godzilla saat masih kecil dulu. Tapi tentu yang membuatnya beda adalah kecanggihan efek masa kini yang membuat berkesan nyata dan lebih spektakuler terutama dengan penyajian gambar 3D.

Entah mengapa banyak adegan perkelahian mengambil setting di malam hari, tapi dengan begitu seringkali ditampilkan perpaduan warna-warni yang cukup memanjakan mata dari lampu kota, sang robot, dan Kaiju (yang ternyata juga punya cahaya). Kaiju sendiri buat saya adalah sosok monster yang agak abstrak. Bentuknya kadang menyerupai kadal, kingkong, badak, dan ternyata ada juga yang berbentuk seperti Pterodactyl (sejenis dinosaurus bersayap) yang bisa terbang!

Seperti kebanyakan film-film action, “Pacific Rim” juga ngga lupa menyelipkan adegan-adegan last minute yang sukses membuat tegang para penonton (meski kadang kita juga sudah tau arahnya kemana). Selain itu romantic scene antara sang tokoh utama pria dan wanita juga ngga ketinggalan dalam film ini, dengan dipadukan unsur dramatik kisah-kisah getir pilot-pilot yang mengendalikan robot. Meski porsinya agak sedikit dalam cerita, tapi adegan seperti itu cukup bisa memainkan emosi penonton (maksudnya saya sih :) )

Bicara hal-hal di luar adegan, sebuah film action atau epic akan sangat terbantu dalam memberikan feel-nya dengan kolaborasi musik latar yang megah dan ‘wah’. Fim ini pun menurut saya punya musik latar yang cukup keren, yang di-arransemen oleh Ramin Djawadi, seorang spesialis musik untuk film-film epic.

"Pacific Rim" Main Music Theme - Ramin Djawadi

Well, untuk sebuah film seperti “Pacific Rim”, rasanya kali ini cukup beralasan buat saya menikmatinya di bioskop. ;)

Monday, June 24, 2013

"Mirrors"

Hey June..! (Untung masih bisa sempat blogging di bulan Juni)..

Kali ini mau sedikit promo (as usual) salah satu lagu cover saya yang pernah lebih dulu di-upload di SoundCloud, dan sekarang sudah saya bikin video lyrics-nya di Youtube. Ya, seperti biasa, saya cuma 'brani' bikin video yang isinya lirik, berhubung cuma create sendiri dan ngga ada sutradaranya jadi masih kurang pede kalo mau bikin video yang nyanyi langsung, hehe (alasan ngeles karena ngga mampu).

Ngga apa lah ya, toh yang pengen saya hantarkan di sini adalah suara saya, berhubung ngga cuma pengen ada di SoundCloud, tapi juga biar ada di Youtube jadilah usaha saya hanya sebatas bikin video-video slideshow aja.. (yang lebih pede saya pamerkan ketimbang nunjukin saya yang lagi nyanyi).

Baiklah..membahas lagunya 'Bang Justin Timberlake yang "Mirrors" ini, saya cukup suka dengan nada dan liriknya. Sebuah lagu yang cukup panjang buat saya (durasinya lebih dari 8 menit loh), tapi yang saya bikin covernya hanya sekitar 5 menitan aja (tetep panjang juga sih).

Lagunya kuat banget di lirik, isinya tentang ungkapan cinta seseorang, namun ngga menjual kata-kata manis yang biasa ada di lagu-lagu cinta. Ungkapannya lebih ke perumpamaan kalau sebuah pasangan yang cocok itu layaknya cermin dan bayangannya, memiliki kemiripan satu sama lain (secara sifat tentu).

Agak susah untuk nyanyi mengikuti liriknya kalo baru-baru aja dengar lagunya, terlebih ini pake bahasa inggris (alasan ngeles yang lidahnya pribumi banget). Tapi akhirnya saya merasa cukup sukses membuat cover lagu ini (se-ngga-nya buat saya sendiri ya) dan menyamarkan keterbatasan bahasa saya.

Dan inilah lagunya..

Dengar di SoundCloud :
Mirrors - Budi (Justin Timberlake - Cover)

Tonton di Youtube :


Hope you'll like it..!! ;)

Monday, June 3, 2013

"Hiding My Heart"

Hey June..!

Sejak mengenal situs 'penitipan' suara yang bernama SoundCloud, saya jadi semakin 'gatel' buat bikin cover dari lagu-lagu yang saya suka dan yang ketemu file minus one-nya, hehe.. Kebetulan aja didominasi dengan lagu-lagu western, bukan karena mau sok 'nginggris' sih, tapi karena memang nyari instrumen lagu-lagu barat lebih gampang ketimbang lagu dalam negeri, I'm wondering why..

Dan kali ini mau ngasih pengumuman (ebuset, pake diumumin segala yak..) kalo yang terbaru saya rekam adalah lagunya mbak Adele yang "Hiding My Heart". Lagu ini simple banget, hanya berupa satu rangkaian intro dan chorus tapi diulang-ulang 3 kali (eh, ini berdasarkan my 'sotoy' opinion ya). Beberapa orang (termasuk saya) mungkin awalnya ngga akan 'ngeh' dengan lagu ini karena memang musiknya pun cenderung akustik yang makin menunjukkan ke-simple-an lagu ini. Tapi buat saya lagu ini ngga kalah masterpiece-nya dari lagu-lagunya mbak Adele yang lain. The power is still on lyrics and melodies.

So, this it, "Hiding My Heart" in my version,

Budi - Hiding My Heart (Adele | Cover)

Dan liriknya,

"Hiding My Heart" - Adele

This is how the story went
I met someone by accident
It blew me away
It blew me away

It was in the darkest of my days
When you took my sorrow and you took my pain
And buried them away, you buried them away

I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I
've ever known
You disappear one day
So I spend my whole life hiding my heart away

Drop you off at the train station
Put a kiss on top of your head
Watch you wave
I watched you wave

Then I went on home to my skyscrapers
Neon lights and waiting papers
That I call home
I call that home

I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I
've ever known
You disappear one day
So I spend my whole life hiding my heart away, away yeah..

I woke up feeling heavy hearted
I
'm going back to where I started
The morning rain, the morning rain
Although I wish that you were here
On that same old road that brought me here
Is calling me home, It
's calling me home

I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I
've ever known
You disappear one day
So I spend my whole life hiding my heart away
And I can spend my whole life hiding my heart away


Thanks for visiting, leave your comment please.. :)

Tuesday, May 14, 2013

Kenapa Traveling?

(Image source : www.leaflanguages.org)
Sebuah pertanyaan pernah terlintas saat melihat sebuah acara petualangan di tv swasta negeri ini. Acara yang sudah lama ada dan kini makin banyak pengikut yang sejenis ini memang sangat saya sukai. Jika ditanya, kenapa suka acara yang seperti ini, mungkin jawabannya bisa banyak sekali. Tapi jawaban yang paling mendasar ya tentu karena saya juga menyukai traveling.

Lalu kenapa traveling?

Memangnya siapa yang ngga suka jalan-jalan? Hehehe.. ;)

Sebuah diskusi dengan seorang teman yang akan saya tulis ini mungkin bisa jadi jawaban buat orang-orang yang sampai saat ini masih bisa belum menerima sebuah hobi jalan-jalan. Jalan-jalan yang saya maksud ngga sekedar bepergian ke suatu tempat yang menyenangkan (baca : Little About Traveling). Karena kalau definisi jalan-jalan yang seperti itu tentulah semua orang akan mengaku suka. Jalan-jalan menurut saya berawal dari niat ingin mengetahui apa yang ada di belahan bumi lain, di luar tempat yang kita tinggali.

Wednesday, May 8, 2013

"Stay"

Sebuah lagu dari Rihanna featuring Mikky Ekko, "Stay".

Kalau saya coba menginterpretasikannya, lagu ini tentang seseorang yang ngga menyangka dan berusaha menyangkal perasaannya kepada seseorang. Meski pada awalnya ia ragu dengan perasaan itu, tapi akhirnya ia menyerah dan justru ingin orang yang ia sukai untuk tetap tinggal (stay) bersamanya.

Lagu ini sepintas terdengar simpel dengan instrumen pengiringnya yang memang hanya dari dentingan piano dan musik seadanya. Tapi saat coba menyanyikannya, jujur lagu ini cukup susah dalam menyesuaikan tempo dan kapan saatnya memasukkan vokal.

Ini cover-nya, versi saya :)

Budi - Stay (Rihanna ft. Mikky Ekko | Cover)

Dan ini liriknya,

All along it was a fever
A cold sweat hot-headed believer
I threw my hands in the air, said,
"Show me something,"
He said,
"If you dare come a little closer."

Round and around and around and around we go

Oh now tell me now tell me now tell me now you know

Not really sure how to feel about it.

Something in the way you move
Makes me feel like I can
't live without you.
It takes me all the way.
I want you to stay

It
's not much of a life you're living
It
's not just something you take – it's given

Round and around and around and around we go

Oh now tell me now tell me now tell me now you know

Not really sure how to feel about it.

Something in the way you move
Makes me feel like I can
't live without you.
It takes me all the way.
I want you to stay.

Ooh the reason I hold on

Ooh cause I need this hole gone
Funny you
're the broken one but I'm the only one who needed saving
Cause when you never see the light it
's hard to know which one of us is caving

Not really sure how to feel about it.

Something in the way you move
Makes me feel like I can
't live without you.
It takes me all the way.
I want you to stay, stay.
I want you to stay, oh. 


Thanks for visit

Tuesday, April 23, 2013

More Than This - (One Direction - Cover)

Bulan April ini penuh hal-hal yang seru, shocking, sekaligus baru, jadi perhatian ke blog akhir-akhir ini agak kurang (padahal seminggu lagi udah mau bulan depan dan belum ada entry baru). Banyak sih ide mau nulis, cuman waktunya aja yang sempit..(widiww..gaya lo bud..bud..). Tapi bener deh, ada satu-dua ide yang kayaknya udah berulang-ulang lewat di kepala, tapi ya gitulah, cuman lewat doang, ngga sempet ditulis, hehe..Pasti penasaran kan sama ide-ide itu, nah yang sabar aja dulu ya, sembari nunggu saya dapet mood yang bagus buat nulis lagi, nih dengerin soundcloud saya yang paling apdet..(hehe, ngga nyambung banget ini..tapi biarin deh!!)

Tinggal diklik aja ya link di bawah..

More Than This - Budi (One Direction - Cover)

Didonlod juga boleh, tapi ngga tanggung resikonya kalo bikin ngga bisa tidur lohh...huehehehe..

Note: Karena direkamnya langsung saat nyanyi live, jadi outputnya bener-bener fully echo dan gaung, ya tapi lumayanlah buat saya dengerin (ngga tau deh buat kalian :p )

Sunday, March 31, 2013

Ilusi Wajah


Face Illusion
Awalnya ngga kepikiran dengan jenis manipulasi foto yang seperti ini, karena biasanya utak-atik Photoshop yang biasa saya lakukan lebih banyak membuat sesuatu yang ngga wajar menjadi terlihat wajar, atau hanya untuk memperbaiki dan meminimalisir kekurangan sebuah foto.

Sampai pada suatu ketika (yang kalo bahasa inggrisnya 'Once upon a time', hehe..), saudara laki-laki saya bilang kalau dia pernah melihat sebuah foto wajah yang konsepnya ilusi tampak depan dan samping. Waktu itu saya belum bisa membayangkan seperti apa foto yang dimaksud. Sampai pada suatu hari (tepatnya baru kemarin) secara ngga sengaja saya ketemu foto ilusi wajah seperti yang dibilang saudara saya itu.

Foto ilusi wajah yang saya lihat benar-benar membuat saya bingung, karena bisa menggabungkan dua sisi wajah yaitu tampak depan dan samping. Memang setau saya konsep sebuah gambar ilusi adalah memuat dua atau lebih informasi yang berbeda dalam satu gambar, sehingga menimbulkan kesan rancu dalam penafsirannya.

Karena penasaran, maka saya pun iseng coba menyatukan dua foto tampak depan dan samping wajah saudara saya itu (yang bersedia menjadi volunteer :p ). Meski ngga butuh waktu yang cukup lama, saya berani bilang membuat foto ilusi seperti ini bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bahkan sejak awal mengambil gambar objek wajahnya.

Pencahayaan adalah hal yang sangat krusial dalam penggabungan foto. Dua foto yang ingin digabungkan lebih baik punya tone warna yang sama. Besarnya ukuran foto tentu juga harus disamakan. Dalam membuat ilusi wajah seperti ini, kita harus tau bagian-bagian mana yang dipertahankan dan mana yang dibuang dari masing-masing tampilan (depan dan samping).  

Nah, buat yang suka mengutak-atik Adobe Photoshop, bisa coba membuat foto ilusi wajah seperti ini. Just for fun!

Saturday, March 23, 2013

Eksak atau Sosial?

Jika dihadapkan dengan dua kata di atas, maka manakah yang ingin kita pilih?
Oke, sebelum makin bingung dengan pertanyaan ini, mari diperjelas dulu apa maksud keduanya.

Eksak dan sosial yang saya maksud merujuk dari dua macam keilmuan yang sebenarnya beda tapi sama. Kenapa saya bilang begitu, karena sampai saat ini saya sering menemui situasi saat keduanya dibedakan, meski menurut saya keduanya tetap sama saja.

Secara cakupan bahasan, memang sih keduanya berbeda. Yang satu dikenal dengan ilmu pasti, dan yang lain begitu relatif benar atau salahnya. Simpelnya, ilmu eksak sering dianggap ilmu 'hitung-hitungan' sedangkan ilmu sosial cenderung ke hafalan.

Ada yang bilang, ilmu eksak itu logis dan 'to the point', sedangkan ilmu sosial itu abstrak dan berbelit-belit. Ngga sedikit yang bilang ilmu eksak itu rumit dengan angka-angka dan rumus, sedangkan ilmu sosial selalu berkutat dengan materi dan tulisan. Ada pula yang bilang kalau orang sosial cenderung lebih suka berdiskusi dan pandai berbicara ketimbang orang eksak.

Begitu terang-terangan keduanya dibedakan, bahkan saat masuk ke jenjang pendidikan tertentu para siswa diharuskan memilih antara ingin masuk ke kelas IPA atau kelas IPS. Dasar memilihnya apalagi kalau bukan pertanyaan semacam, 'lebih suka menghitung atau menghafal?' (Iya kan?)

Fenomena ini terjadinya berulang-ulang sehingga membentuk pola pikir sebagian orang untuk mengkotakkannya menjadi dua hal yang sifatnya dominan dan yang minoritas. Orang eksak jadi malas menghafal dan orang sosial agak anti menghitung.

Setelah saya pikir-pikir lagi, jika ada yang bilang orang eksak ngga suka menghafal, menurut saya pendapat itu ngga sepenuhnya benar. Karena orang yang ingin mendalami ilmu eksak pun harus punya kemampuan menghafal yang baik. Kalau ngga begitu, bagaimana bisa mengingat rumus-rumus yang sedemikian banyaknya?

Memang sih, logika sangat dimainkan dalam ilmu eksak, tapi memori yang baik tetap diperlukan untuk me-recall logika mana yang akan dipakai. Yang berbeda adalah cara menghafalnya. Orang eksak harus rajin berlatih bermain rumus dan angka yang secara ngga langsung dapat memperkaya memori mereka. Kecenderungan inilah yang mungkin dihindari oleh orang sosial yang mengaku anti angka dan rumus.

Beberapa orang juga berpendapat, kemampuan bicara, bermain kata-kata dan menguasai bahasa hanya dimiliki oleh orang sosial. Tapi coba lihatlah profesi dokter. Seorang dokter adalah orang yang ngga diragukan lagi keilmuan eksaknya. Tapi jika dibilang ia ngga perlu menghafal dan menguasai bahasa, bagaimana cara ia mempelajari berbagai istilah kedokteran yang didominasi dengan bahasa asing? Bagaimana pula ia bisa mengkomunikasikan konsultasi pengobatan kepada pasiennya jika ia ngga 'pandai berbicara'?

Begitu pula dengan ilmu sosial, jika ada yang berpendapat kalau keilmuan ini ngga perlu mengolah angka, lalu kenapa akuntansi digolongkan ke dalam ilmu sosial? (padahal seorang akuntan jelas-jelas sering menghitung angka). Dan tentunya seorang pengacara atau politikus pun masih memerlukan data-data kuantitatif (yang berupa angka) untuk menunjang pekerjaannya.

Lalu bagaimana dengan orang yang merasa di antara keduanya sama kuat? (ataupun sama lemahnya). Saya sendiri misalnya. Jujur sampai sekarang saya belum bisa benar-benar yakin apakah saya termasuk orang eksak atau orang sosial. Memang sih, saya akhirnya menempuh pendidikan yang ilmunya didominasi eksakta, tapi kalau harus berdiskusi tentang hal-hal sosial kadang saya bisa sangat menyukainya.

Maka sebelum buru-buru menentukan pola pikir manakah antara eksak dan sosial yang cocok bagi diri kita, buang dulu anggapan kalau kita akan selalu berkutat dengan hal-hal yang kita pilih saja. Karena pada dasarnya semua aspek sangat diperlukan di dalam pekerjaan dan kehidupan kita nantinya. Perbedaan di antara eksak dan sosial bukanlah bertujuan untuk membuat keduanya semakin berseberangan, tapi justru untuk saling mendukung satu sama lain.

Jadi, masih perlukah menanyakan apa yang akan kita pilih antara eksak dan sosial?

Saturday, March 16, 2013

To be liked, there’s nothing to do but “Be Yourself”

Frase “be yourself” sepertinya sudah bukan hal asing lagi di telinga kita. Frase yang artinya “jadilah diri sendiri” ini seringkali jadi suatu acuan motivasi untuk setiap orang yang mulai mengalami krisis ‘pede’ dan suka meniru-niru jati diri orang lain.

Sebelum mulai membiasakan bersikap menjadi diri sendiri, ngga ada hal yang lebih penting daripada mengenal diri sendiri dulu. Karena bagaimana orang lain akan mengenal kita jika kita sendiri belum mengenal dan memahami diri sendiri?

Memang, hal-hal seperti kepercayaan, pola pikir, kebiasaan, dan sikap kita adalah hasil pembelajaran dari budaya dan lingkungan sosial dimana kita dibesarkan. Semua dibentuk dari luar diri kita. Tapi meski begitu, jauh di dalam diri kita sebenarnya masih ada sesuatu yang khas, yang menjadi identitas, yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Sesuatu itulah yang membantu otak manusia memilih apa yang ingin dan ngga ingin ia pelajari. Sesuatu itulah yang membuat manusia merasa nyaman atau ngga nyaman dengan suatu hal. Dan kecenderungan itu ngga akan sama pada setiap orang. Jika sifat dua individu kembar aja masih mungkin berbeda, apalagi pada individu yang bukan bersaudara.

Identitas itulah yang seharusnya menjadi dasar setiap orang saat ingin menjadi diri sendiri. Hal itulah yang seharusnya ngga akan pernah dilupakan seberapa sering pun ia mengalami perubahan.

Saturday, February 16, 2013

Dewasa dan Kedewasaan (II)

..from 'Dewasa dan Kedewasaan (I)'

Menginjak bangku kuliah, saya merasa bebas merdeka karena saat menjadi mahasiswa kos-kosan akhirnya datang juga (baca : Indekost). Kenapa begitu? Karena waktu itu indikator dewasa menurut saya adalah mulai hidup mandiri dan mengurus segala keperluan sehari-hari sendiri. Teori ketiga ini mungkin yang rasanya paling mendekati benar ketimbang teori-teori  sebelumnya. Gimana ngga, orang yang sudah bisa hidup jauh dari orang tua tentunya adalah yang cukup dewasa kan. Hal yang paling membedakan adalah kebebasan mutlak yang ngga akan didapatkan bila masih tinggal bersama orang tua :p

Ini lumayan mempengaruhi kepercayaan diri saya sebagai seseorang yang usianya mulai beranjak dewasa. Apapun yang dulu rasanya susah dilakukan saat masih dalam pengawasan orang tua, bisa saya lakukan, misalnya begadang sampe pagi, hehe :D . Sampai kemudian pada saat-saat mendekati tahun terakhir kuliah, teori kedewasaan saya mulai goyah lagi. Oke, memang saya sudah mulai bisa hidup mandiri, tapi ngga sepenuhnya secara materi, alias masih ‘nadah’ sama ortu. Yah, apa-apa masih disokong sama orang tua deh!  I think you’re not adult enough in that condition.

Dewasa dan Kedewasaan (I)

Tulisan ini cocok dibaca untuk usia 17 tahun ke atas, bukan karena mengandung adult content, tapi mungkin kurang menarik aja bagi anak-anak di bawah usia itu.

Ini hanya tentang kesan-kesan hidup saya yang (syukurlah) bisa mencapai usia pertengahan akhir dua puluhan ini. Kalau diingat-ingat, rasanya saya sudah mulai mengerti tentang perbedaan usia sejak saya mulai bisa menghitung. Meski masih kecil, minimal saya udah tau gimana membedakan siapa yang lebih tua dan yang lebih muda. Bukanlah hal yang susah karena waktu itu ukuran tubuh adalah patokan saya dalam membedakan umur. Anak yang badannya lebih besar tentulah lebih tua dari yang lain, begitu pun sebaliknya. Lahir di keluarga sebagai anak ‘bontot’ dengan dua kakak perempuan dan satu kakak laki-laki juga membuat saya lebih mudah peka dengan usia.

Pernah muncul pertanyaan di kepala saya seperti,

‘Gimana ya rasanya kalau udah besar nanti?’ (waktu itu kosakata ‘dewasa’ belum terfikirkan).

Bukannya saya ngga menikmati masa-masa kecil saya sih, tapi mungkin lebih karena bakat ‘kepo’ saya sedari kecil udah keliatan. Err..kesannya kayak anak kecil yang ngga sabar untuk cepat besar ya? Padahal ngga juga sih, saya toh masih berperilaku sesuai umur saya, ngga lebih-ngga kurang.

Saturday, January 19, 2013

2013 : New Year, New Job, New Resolutions

Kayaknya udah telat banget kalo postingan ini diawali dengan tulisan ‘Happy New Year’ :o) (abisnya udah tanggal 20an sih), tapi sebenarnya buat saya tahun 2013 ini masih aja berasa baru dan ‘asing’. Padahal kan perhitungan tahun, bulan, atau hari seharusnya ngga lantas membuat perbedaan apa-apa pada waktu, toh yang membuat perhitungan itu hanyalah manusia sendiri. Setiap hari selalu sama, ada siang ada malam.
Oke, anggap aja saya udah begitu bergantung sama sistem kalender manusia ini, dan boleh kan kalo saya masih ikut mengkotak-kotakkan waktu, kan saya memang hidup di dalamnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...