Wednesday, June 20, 2012

'Iseng' Project

Baru aja nemu gimana caranya menghilangkan vocal di file mp3 dan juga nge-mix file-file audio menjadi satu (duh, kemane aje sih buddd..) Ini bikin gue tergelitik (bukan secara harfiah) untuk bikin sebuah project yang me-remake beberapa lagu untuk diganti vocal-nya dengan suara....(ehm) gue.

Lelucon macam apa ini???

Ya, itu makanya gue namain ini 'Iseng' Project dikarenakan ke-absurd-annya yang agak kelewatan. Tapi orang yang mau maju kan ngga boleh takut mencoba dong, biar aja gimana nanti hasilnya yang penting kan kita ngga penasaran karena sudah pernah nyoba.

So, hasilnya gimana?

Huehehe..meski ngga yakin bisa bikin hits, tapi paling ngga gue bisa meninggalkan karakter penyanyi aslinya dengan karakter suara gue sendiri (eh, itukan yang sering dibilang para juri-juri Idol).

Berhasil jadi bagus dong?

Ihhh..ini nanya mulu dehh.. (kumat self talk-nya). Ya, ini makanya gue coba upload di blog, hasil rekaman amatir berupa remake dua buah lagu dari dua buah negara dan tentu dengan dua bahasa yang berbeda pula. Silakan didengerin dan dinilai sendiri (Mba' I'iek pasti langsung teriak 'Pitch Control..!!').

Anyway, remake yang pertama adalah sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Owl City yang judulnya Fireflies, Enjoy! :p



Dan ini satu lagi remake yang kedua, diadaptasi dari sebuah lagu asal negeri kita sendiri yang berjudul 'Be Mine' (Eh, tapi judulnya kok 'nginggris' yah?) dipopulerkan oleh Aditya, here you are! 


video

Gimanaa...?? Berhasil kan gue ngacak-ngacak lagu aslinya? Yang suka, syukur dah, yang ngga suka juga wajar aja sih (etapi awas ya kalo diem-diem didonlot juga mp3 nya..) Hehehehe..sengaja ngga dikasih link ke lagu aslinya biar ngga pada tau perbandingannya, tapi kalo emang penasaran sama yang aslinya ya monggo dicari sendiri...

Sampai ketemu lagi di 'Iseng' Project berikutnya..

Monday, June 18, 2012

Bangka : Beautiful Beaches (Again)

Pantai Parai Tenggiri
Pantai Parai Tenggiri yang begitu populer
Bagian dari resor di pantai Parai
Sengaja kami ngga menghabiskan waktu sampe sore di pantai Matras karena masih mau lanjut ke pantai Parai Tenggiri yang letaknya ngga jauh dari situ. Dari hasil googling, katanya pantai Parai adalah yang paling populer dan ekslusif di Bangka. Benar saja, berbeda dengan dua pantai sebelumnya, pantai Parai memiliki resor dengan hotel bintang 4 yang sudah dikelola dengan baik. Disana terdapat beberapa restoran dan villa untuk menginap bagi para wisatawan. Kelengkapan fasilitasnya membuat pantai ini sangat cocok untuk tempat liburan bersama keluarga. Tapi untuk wisatawan yang cuma mau berkunjung sebentar seperti kami tetap masih bisa masuk tanpa dipungut bayaran kok (hehe..tetep, cari yang murah meriah ajah).

Begitu melihat langsung pantai ini, mungkin banyak kata-kata sifat yang langsung terpikirkan untuk menggambarkan keindahannya. Meski ngga seluas dan sepanjang pantai Matras, pantai Parai juga dipercantik dengan bebatuan alam yang banyak terdapat disana. Mungkin pantai ini bisa jadi surga bagi para fotografer karena begitu indahnya perpaduan pasir, bebatuan dan air laut di sana.

Karena hari sudah sore, kami pun cukup puas dengan sekedar menikmati pemandangan pantai dan hembusan angin laut yang benar-benar menenangkan. Walau bukan fotografer profesional, tentunya kami ngga lupa mengabadikan momen jalan-jalan kami di pantai Parai. Just wanna convince you that we’ve been there.

Bangka : Still Beach Talk

Eksotisnya pantai Matras
Pantai-pantai lain yang cukup bagus buat dikunjungi di Bangka letaknya dekat dengan Sungailiat, sebuah ibukota kabupaten di pinggir pulau Bangka. Untuk memudahkan akses ke pantai-pantai itu kami memilih pindah dari Pangkal Pinang dan menginap di Sungailiat. Penting untuk diketahui, moda transportasi umum ke areal pantai agak susah di Bangka, padahal jaraknya ngga bisa dibilang dekat. Pilihannya adalah mesti bawa kendaraan sendiri atau bisa sewa sepeda motor / mobil. Karena mau pindah hotel dan bawa barang-barang lumayan banyak, kami pun memilih sewa mobil untuk menempuh perjalanan ke Sungailiat. Harga sewanya rata-rata 250 ribu rupiah per hari.

Pantai Matras
Waktu tempuh yang kira-kira setengah jam ngga begitu terasa karena jalan yang cenderung lurus dan lumayan lancar. Akses ke arah pantai juga sudah difasilitasi dengan jalanan beraspal yang mulus dan cukup lebar untuk semua jenis kendaraan. Sebenarnya ngga begitu susah mencari arah ke pantai, tapi tetap aja kami bertiga sempat keliru di perjalanan. Yang awalnya mau ke pantai Parai dulu eh malah nyampe ke pantai Matras (ini entah karena 'si supir' yang kurang berpengalaman atau 'navigatornya' yang ngga baca peta dengan benar). Tapi ngga apa juga kok, kan tujuannya mau ke pantai-pantai juga.

Bangka : An island where you can find some beautiful beaches

Warning..!! 
Postingan berikut dan sekuel-sekuelnya akan lebih banyak memuat konten ‘narsis’ dari si penulis dan teman-temannya, ngga ditanggung jika kemudian anda jadi terpengaruh (baca : terkesan) setelah membaca seluruh postingan ini.. :-p

Pulau mesti ada pantainya. Masalah bagus atau ngga gue mah ngikut aja, 'coz ngga punya referensi pengalaman 'perpantaian' buat perbandingan. Tapi kalo dari hasil googling sana-sini kayaknya pantai Bangka cukup menjanjikan buat liburan. Mari dibuktikan sendiri aja..

Areal depan bandara Depati Amir di Pangkal Pinang
Berangkat masing-masing dari tempat terpisah, kami bertiga kemudian bertemu di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang. Meski sempat ada insiden kecil naik angkot mogok dari bandara (terpaksa bantu dorong lagi, hufth..!!) dan capek jalan kaki muter-muter nyari penginapan murah tapi nyaman, akhirnya nyampe juga di sebuah hotel yang lumayan bagus dan letaknya strategis di kota Pangkal Pinang.

Murah hotelnya?
Ngga juga sih, murah dan nyaman itu kadang memang susah untuk sejalan.

Ngga berniat cuma mengurung diri seharian meski kamar hotelnya nyaman, siang itu kami langsung cari sewaan sepeda motor buat ke pantai. Hehe.. udah pada ngga sabar nunggu besok buat maen-maenan airr sama pasirrr.. (dimaklumin ya ‘tingkah bocah’ kami ini..)
Mesjid Jamik Pangkal Pinang yang ketemu pas muter-muter cari penginapan

Bangka : Awalnya ngga sengaja

Rencana jalan-jalan ini sebelumnya sudah lama didiskusikan dengan teman-teman. Tapi untuk tujuan perjalanan, awalnya masih sangat random alias ngga jelas. Dimulai dari rencana heboh mau ke negara tetangga, sampai akhirnya ‘mentok’ di dalam negeri aja (karena terkendala bujet dan masalah kelengkapan dokumen). Meski destinasi masih belum pasti, tapi tema yang diputuskan adalah pantai

Kenapa pantai? Karena sebelumnya udah ke gunung, hehe..simpel aja kan.

Belitung adalah pulau pertama yang kami rencanakan untuk dikunjungi. Selain karena pantainya yang katanya memang indah, ikon Belitung sebagai pulau ‘Laskar Pelangi’ masih membuat banyak orang tertarik. Sayang karena reputasinya yang bagus itu pulalah harga tiket pesawat kesana jadi melonjak di musim liburan. Lagi-lagi karena bujet, kami terpaksa mengurungkan rencana jalan-jalan ke Belitung. Maybe next time.

Di tengah 'krisis' destination nowhere yang dialami kami bertiga, terlintaslah Bangka sebagai alternatifnya. Heran juga, kenapa baru kepikiran untuk ke Bangka padahal letaknya bersebelahan langsung dengan Belitung. Yang lebih heran lagi kenapa harga tiket pesawat ke Bangka justru lebih murah daripada ke Belitung? (padahal Bangka adalah ibukota propinsi Babel). 

Ya sudahlah, ngga perlu kebanyakan heran (self talk), yang penting kan liburannya ga jadi batal. Bangka, here we come..!

Penasaran? Baca terus : 
Bangka : An island where you can find some Beautiful Beaches 

Wednesday, June 13, 2012

Jelajah Baduy

Petualangan di kampung Baduy sebenarnya sudah cukup lama gue alami, kira-kira pertengahan tahun 2008 saat sedang penelitian untuk tugas akhir kuliah (hmm..kebayang lah berapa umur gue sekarang). Ya, skripsi gue dulu memang topiknya berkaitan dengan masyarakat Baduy yang ada di Desa Kanekes, Lebak, Banten. Mungkin bukan hal yang baru juga, karena sudah pernah ada yang melakukan ini sebelumnya. Tapi buat gue ini tetaplah suatu pengalaman yang benar-benar pertama dan rada ‘nekat’. Gimana ngga, saat teman-teman satu angkatan rata-rata penelitiannya indoor alias di Lab yang adem dan penuh peralatan canggih, gue malah memilih penelitian outdoor di kampung pedalaman dengan segala keterbatasannya dan berbekal peralatan seadanya.

Well, semua awal mulanya karena dosen pembimbing juga sih. Karena permintaan beliau lah, gue yang saat itu belum begitu hobi traveling bela-belain maen ke kampung Baduy demi beresnya skripsi (kelar di tahun yang sama loh! #bangganya..huehehe..) Dan sekarang dipikir-pikir, kalo bukan karena skripsi mungkin sampai saat ini gue belum tentu akan berpetualang kesana. Jadi termasuk pengalaman yang berharga lah buat gue. Yah, kadang ngangenin juga kalo diinget-inget dan jadi pengen kesana lagi (kalo ada yang ngajakin dan mau bayarin :p)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...