Tuesday, May 14, 2013

Kenapa Traveling?

(Image source : www.leaflanguages.org)
Sebuah pertanyaan pernah terlintas saat melihat sebuah acara petualangan di tv swasta negeri ini. Acara yang sudah lama ada dan kini makin banyak pengikut yang sejenis ini memang sangat saya sukai. Jika ditanya, kenapa suka acara yang seperti ini, mungkin jawabannya bisa banyak sekali. Tapi jawaban yang paling mendasar ya tentu karena saya juga menyukai traveling.

Lalu kenapa traveling?

Memangnya siapa yang ngga suka jalan-jalan? Hehehe.. ;)

Sebuah diskusi dengan seorang teman yang akan saya tulis ini mungkin bisa jadi jawaban buat orang-orang yang sampai saat ini masih bisa belum menerima sebuah hobi jalan-jalan. Jalan-jalan yang saya maksud ngga sekedar bepergian ke suatu tempat yang menyenangkan (baca : Little About Traveling). Karena kalau definisi jalan-jalan yang seperti itu tentulah semua orang akan mengaku suka. Jalan-jalan menurut saya berawal dari niat ingin mengetahui apa yang ada di belahan bumi lain, di luar tempat yang kita tinggali.

Meski banyak pendapat positif tentang traveling, tapi kadang juga dianggap ngga lebih sebagai kebutuhan sosial. Sekedar gaya-gayaan, pamer foto, menunjukkan kemampuan finansial karena pernah jalan ke banyak tempat, dan alasan konsumtif lainnya. Well, ngga salah sih pendapat begitu, meski ngga sepenuhnya benar juga. Karena jika ingin diluruskan lagi ada banyak hal positif yang bisa didapat dari traveling selain cuma sebagai eksistensi diri.

Kebutuhan sosial memang mendasari kenapa seseorang bepergian ke suatu tempat. Karena bisa dipastikan di luar sana ia akan bertemu lebih banyak manusia lagi dengan sifat dan kultur yang berbeda. Memang kadang ada yang ingin sekedar pergi menjauhi keramaian menikmati keindahan alam. Tapi sebenarnya tanpa sadar ia pun akan dan pasti berinteraksi dengan orang-orang baru selama perjalanannya.

Inilah yang disebut kebutuhan sosial, yang membantu kita untuk lebih bisa survive. Kebutuhan inilah yang menuntut kita untuk ngga cuma bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial di tempat yang kita tinggali saja, tetapi juga dengan yang di luar sana.

Saat traveling disebut sebagai ajang gaya-gayaan, mungkin ada benarnya juga karena di banyak tempat wisata sering ditemui traveler (terutama anak-anak muda) dengan berbagai gaya hanya heboh fofo-foto di sana-sini sampai kadang ngga begitu mengindahkan kebersihan atau kelestarian tempat wisatanya sendiri (ini yang ngga boleh ditiru). Citra yang didapat dari perilaku ini memang membuat traveling seakan hanya jadi hobi hura-hura saja, wasting money.

Ya sebenarnya ngga masalah juga sih asal yang dipakai masih uang sendiri. Toh hak semua orang untuk mencari kesenangan dan rehat sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari. Karena memang dengan berlibur bisa membantu kita me-refresh badan dan pikiran.

Kalau nantinya seakan cuma bisa pamer foto-foto banggain diri karena sudah kesana-kemari, ya ga masalah lah. Selama yang dibanggakan juga sesuatu yang positif, yang menyenangkan, yang sebetulnya bisa menjadi referensi juga buat orang lain.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, hobi traveling yang seakan membuang duit ini punya dampak yang cukup positif juga bagi tempat yang dikunjungi. Sebuah ajang promosi yang efektif terutama bagi daerah-daerah yang selama ini jarang diperhatikan oleh dunia luar.

Meski ada juga sih yang berpendapat kalau traveler yang disebut sebagai 'penjelajah' kadang identik dengan ‘penjajah’ yang membuat keindahan alam diubah dan budaya dibisniskan. Gunung-gunung tinggi dibuka hutannya dan dibuat jalur pendakian yang memudahkan orang untuk berkunjung. Ritual budaya dan kesenian daerah dipertontonkan dengan memungut tarif bagi pengunjungnya, dan sebagainya.

Tapi sekali lagi, apakah hal itu sepenuhnya salah? Setiap orang butuh makan kan? Kalau memang dengan cara mempromosikan daerahnya mereka bisa mendapat penghidupan maka semua sah-sah saja. Yang penting wisata/perjalanan harus bernilai baik bagi kedua pihak, apakah kita yang mendapat nilai baik dari yang kita kunjungi atau sebaliknya.

Maka dari itu mestinya di perjalanan kita ngga bisa acuh dengan kondisi sekitar, ngga hanya sekedar senang jalan-jalan tanpa tau cerita tentang tempat dan masyarakat yang dikunjungi. Karena mungkin nantinya cerita itu bisa kita bagi dan bermanfaat untuk orang lain.

Semoga kita bisa mulai mengubah mindset kita. Karena hanya orang yang sombong yang ngga mau melihat dunia luar, yang merasa dunianya sudah standar tanpa mau tahu dunia orang lain seperti apa.

Because you’re just a page in a big-book called WORLD.

2 komentar:

Yudha Bayu Nursalam said...

sipp.... setuju!!
masing-masing gaya... sah-sah saja...
kekayaan hati dan pengalaman nanti yg mencerminkan kualitas perjalanannya :)

Budiholics said...

karena hidup adalah perjalanan ya bay, so mari dinikmati dan diambil hal-hal yang baik-baiknya

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...