Sunday, July 14, 2013

Pacific Rim : Suguhan Robot dan Monster Super Besar

Image source : MovieMaze
Prolog
Sebenarnya sudah jarang saya nonton di bioskop, selain karena ngga terlalu ngikutin lagi film-film apa yang baru keluar, harga tiket nonton di kota tempat tinggal saya sekarang lumayan menguras isi dompet (yang isinya memang ngga banyak itu). Saya ngga tau apakah harga tiket nonton memang sudah sedemikian mahalnya sekarang, tapi buat saya, mengeluarkan 40 – 60 ribu Rupiah untuk duduk paling lama dua setengah jam di depan layar besar, harusnya memang untuk alasan yang benar-benar tepat. Maklum anak kos, sayang kan uangnya kalo filmnya kurang worth it.

Terakhir saya benar-benar menunggu film di 2013 ini hanya untuk nonton “Man of Steel”. Karena saya pikir film superhero yang sudah dikenal beberapa generasi itu ngga mungkin tanpa efek khusus yang keren kan. Sempat juga sih nonton “World War Z” yang sebenarnya ngga jauh beda dengan film-film zombie pendahulunya, itu pun saya tonton di bioskop karena ditraktir, jadi ngga masalah (ngga mau rugi banget ya saya). Tapi memang kalo dibandingan dengan masa-masa saat harga tiket masih paling mahal 25 ribu (masa kapankah itu?), nonton bioskop zaman sekarang harus dipikirin banget (se-ngga-nya buat saya pribadi). Kalo sekedar film animasi atau bahkan cuma drama, saya sih mending nyari dvd-nya aja.

"Pacific Rim" : Movie Trailer


Tentang "Pacific Rim"
Nah, awal mula saya nonton “Pacific Rim” ini juga ngga disengaja. Saya yang ngga niat ngikutin perkembangan film di tahun ini lagi iseng aja lihat-lihat jadwal film di situs 21, terus tiba-tiba teman saya merekomendasikan film “Pacific Rim” yang memang lagi ada jadwal mainnya saat itu. Kesan saya pas baru baca judulnya sih langsung kebayang laut, atau film disaster yang latarnya di laut semacam “Poseidon”. Ternyata saya keliru, benar sih latarnya banyak mengambil di laut, tapi ini bukanlah tentang kecelakaan kapal biasa, film yang disutradarai oleh Guillermo del Toro ini (menurut saya) lebih ke kombinasi banyak film yaitu, “Godzilla”, “King Kong”, “Battleship”, “Real Steel”, dan ”Transformer”.

Alur filmnya sendiri bercerita tentang perang antara manusia melawan monster laut yang mengobrak-abrik bumi. Sepanjang durasi film banyak disuguhkan pertempuran monster yang disebut Kaiju (binatang raksasa dalam bahasa Jepang) dan robot logam (yang disebut Jaeger) yang dikendalikan dua manusia. Tokoh utama film ini (selain si monster) adalah seorang mantan co-pilot Jaeger yang bernama Raleigh Becket (diperankan oleh Charlie Hunnam) yang pernah kehilangan kakaknya sendiri (yang juga seorang pilot Jaeger) saat sama-sama bertarung melawan Kaiju. Dari situlah kemudian ceritanya berkembang.

Super Besar atau Extra Large. Itulah kesan saya keseluruhan untuk film ini. Mungkin kecenderungan manusia yang mudah tergugah dengan hal-hal berukuran raksasa lah yang mendasari film ini dibuat. Baik Kaiju maupun Jaeger ngga ada yang ukurannya lebih kecil dari gedung belasan lantai. Tapi memang sih apa serunya melihat pertempuran robot dan monster yang kecil? Terlebih kalo ukurannya raksasa, akibat dari pertempurannya pun akan lebih dahsyat lagi kan.

Apalagi karena imbas dari ukuran Kaiju dan Jaeger yang super guedhe ini selama film banyak sekali ditampilkan kerusakan yang sifatnya massal (ngga kebayang kalo benar-benar terjadi di dunia nyata deh). Kaiju yang ternyata jumlahnya lebih dari satu itu sukses memporak-porandakan kota. Gedung pencakar langit hancur berantakan, jembatan Golden Gate remuk, dan kapal induk seakan cuma mainan. Agak ironis memang, pertempuran yang terjadi untuk mencegah si monster mengamuk akhirnya tetap mengakibatkan kondisi kota yang jadi hancur lebur, dan mungkin saja justru sudah banyak manusia yang jadi korban. Ah, tapi karena ini cuma film, baiknya ngga usah terlalu dipikirin kan ya.

Bisa dipastikan ada begitu banyak special effects yang dipakai pada film ini untuk memvisualisasikan serunya pertempuran Kaiju dan Jaeger. Lagi-lagi karena ukurannya yang serba raksasa, pertarungan lebih banyak disajikan dalam slow motion. Adu kekuatan antara si monster dan sang robot lebih mirip adegan smack down yang penuh pukulan hingga lemparan. Mungkin ini agak mengingatkan saya dengan adegan di film Ultraman dan Godzilla saat masih kecil dulu. Tapi tentu yang membuatnya beda adalah kecanggihan efek masa kini yang membuat berkesan nyata dan lebih spektakuler terutama dengan penyajian gambar 3D.

Entah mengapa banyak adegan perkelahian mengambil setting di malam hari, tapi dengan begitu seringkali ditampilkan perpaduan warna-warni yang cukup memanjakan mata dari lampu kota, sang robot, dan Kaiju (yang ternyata juga punya cahaya). Kaiju sendiri buat saya adalah sosok monster yang agak abstrak. Bentuknya kadang menyerupai kadal, kingkong, badak, dan ternyata ada juga yang berbentuk seperti Pterodactyl (sejenis dinosaurus bersayap) yang bisa terbang!

Seperti kebanyakan film-film action, “Pacific Rim” juga ngga lupa menyelipkan adegan-adegan last minute yang sukses membuat tegang para penonton (meski kadang kita juga sudah tau arahnya kemana). Selain itu romantic scene antara sang tokoh utama pria dan wanita juga ngga ketinggalan dalam film ini, dengan dipadukan unsur dramatik kisah-kisah getir pilot-pilot yang mengendalikan robot. Meski porsinya agak sedikit dalam cerita, tapi adegan seperti itu cukup bisa memainkan emosi penonton (maksudnya saya sih :) )

Bicara hal-hal di luar adegan, sebuah film action atau epic akan sangat terbantu dalam memberikan feel-nya dengan kolaborasi musik latar yang megah dan ‘wah’. Fim ini pun menurut saya punya musik latar yang cukup keren, yang di-arransemen oleh Ramin Djawadi, seorang spesialis musik untuk film-film epic.

"Pacific Rim" Main Music Theme - Ramin Djawadi

Well, untuk sebuah film seperti “Pacific Rim”, rasanya kali ini cukup beralasan buat saya menikmatinya di bioskop. ;)

2 komentar:

Admin Dedek Albern said...

KASIH TAU DOANG TAPI TAK SERAHKAN DOWNLOADNYA,GOBLOK KALI YA ADMINNYA?

Budiholics said...

Wah ngga ngerti saya maksudnya apa..

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...