Wednesday, June 13, 2012

Jelajah Baduy

Petualangan di kampung Baduy sebenarnya sudah cukup lama gue alami, kira-kira pertengahan tahun 2008 saat sedang penelitian untuk tugas akhir kuliah (hmm..kebayang lah berapa umur gue sekarang). Ya, skripsi gue dulu memang topiknya berkaitan dengan masyarakat Baduy yang ada di Desa Kanekes, Lebak, Banten. Mungkin bukan hal yang baru juga, karena sudah pernah ada yang melakukan ini sebelumnya. Tapi buat gue ini tetaplah suatu pengalaman yang benar-benar pertama dan rada ‘nekat’. Gimana ngga, saat teman-teman satu angkatan rata-rata penelitiannya indoor alias di Lab yang adem dan penuh peralatan canggih, gue malah memilih penelitian outdoor di kampung pedalaman dengan segala keterbatasannya dan berbekal peralatan seadanya.

Well, semua awal mulanya karena dosen pembimbing juga sih. Karena permintaan beliau lah, gue yang saat itu belum begitu hobi traveling bela-belain maen ke kampung Baduy demi beresnya skripsi (kelar di tahun yang sama loh! #bangganya..huehehe..) Dan sekarang dipikir-pikir, kalo bukan karena skripsi mungkin sampai saat ini gue belum tentu akan berpetualang kesana. Jadi termasuk pengalaman yang berharga lah buat gue. Yah, kadang ngangenin juga kalo diinget-inget dan jadi pengen kesana lagi (kalo ada yang ngajakin dan mau bayarin :p)

Masyarakat Baduy ternyata ngga se-menakutkan yang dibayangkan kok. Memang pada awalnya gue sempat punya imajinasi yang agak ‘lebay’ pas sebelum pergi kesana. Belum-belum udah bayangin ketemu suku primitif yang agresif dengan berbagai senjata tajam di tangan dan kaki. Wuihh..gambaran scary itu masih dipersadis dengan kata-kata temen kuliah yang bilang kalo gue melanggar satu aja aturan adat disana, maka gue akan diarak keliling untuk kemudian disiksa orang sekampung. TidaaAAKKK…(eh, kok lebaynya kebawa-bawa sampe sekarang yah??).

Tapi stop! Jangan percaya semua halusinasi menyesatkan itu. Karena memang kenyataannya masyarakat Baduy justru bukanlah orang-orang yang agresif. Mereka memang punya peraturan dan larangan adat yang masih dipegang teguh, tapi mereka juga masih punya cara yang manusiawi untuk penyelesaian masalah apapun (malah ngga ada yang namanya main hakim sendiri atau korban diamuk massa seperti di perkotaan). Gue justru cenderung berpendapat masyarakat Baduy adalah masyarakat yang rada ‘kalem’. Mungkin karena aturan adat yang melarang mereka untuk terlibat dengan lingkungan luar itulah yang membuat mereka seolah berperilaku tertutup terutama jika kedatangan orang-orang luar.

Penelitian masalah sosial di kampung Baduy mungkin sudah banyak yang melakukan. Biasanya penelitian semacam itu juga ngga begitu memakan waktu lama, dua-tiga hari juga sudah bisa dapat datanya.  Tapi melakukan penelitian selama seminggu dengan membawa-bawa peralatan ke kampung yang paling anti perangkat modern mungkin kedengarannya agak absurd. Tapi disitulah tantangannya. Berbekal kemampuan bahasa sunda (bahasa penduduk setempat) yang agak belepotan, gue dituntut harus bisa negosiasi supaya diijinkan melakukan penelitian disana. Untungnya gue dibantu oleh teman-teman yang memang asli sana (orang Banten maksudnya, bukan orang Baduy), mereka bersedia menemani saat penjajakan awal dan membantu menjelaskan ke penduduk setempat tentang maksud kedatangan gue. Merci beaucoup  Firman, Yuliya, dan Andri.

Perijinan ke instansi terkait tentu harus dilakukan terlebih dahulu jika kita ingin melakukan penelitian disana, apalagi harus menetap untuk beberapa hari. Memang terkesan ‘ribet’, tapi penting juga untuk pendataan bahwa ada orang luar yang sedang berada di kampung Baduy kalau-kalau ada masalah (Alhamdulilah, ngga) yang terjadi pada masyarakat Baduy ataupun orang pendatangnya. Tapi kalau sekedar untuk berkunjung sih gue rasa ngga perlu perijinan ke sana-sini, cukup melapor ke kepala desa setempat yang rumahnya mudah dijumpai saat mau masuk ke perkampungan.

Pemukiman masyarakat Baduy terdiri dari dua kelompok, Baduy Dalam dan Baduy Luar. Penduduknya bisa dibedakan dari pakaian yang mereka kenakan. Biasanya penduduk Baduy Dalam memakai pakaian putih tanpa aksesori buatan dari luar, sedangkan penduduk Baduy Luar biasanya memakai pakaian hitam yang kadang dipadukan dengan aksesori atau pakaian dari luar. Memang kecenderungan memegang teguh adat dan larangan masih lebih kuat untuk penduduk Baduy Dalam ketimbang Baduy Luar. Tapi menurut gue justru biasanya penduduk Baduy Dalam lebih ramah jika sedang ngobrol dengan masyarakat luar, dan terkadang mereka juga lebih mengerti bahasa Indonesia daripada penduduk Baduy Luar.

FYI, sebagian besar wilayah Baduy adalah perbukitan dengan kemiringan yang cukup curam, dan biasanya mereka membangun pemukiman dekat dengan aliran sungai agar mudah memenuhi kebutuhan air. Ngga perlu diragukan lagi tenangnya tinggal disana dengan kondisi alam yang masih alami dan bebas polusi (udara ataupun suara). Air sungainya pun tentu masih jernih dan bersih karena mereka ngga pernah memakai sabun saat mandi atau mencuci di sungai. Alasannya karena sungai itu mengalir terus ke wilayah yang lebih rendah. Jika mereka mengotori airnya, maka penduduk yang tinggal di wilayah yang lebih rendah akan mendapat air yang kotor juga. Wow! Kearifan lokal yang patut ditiru.. Save The Environment!

Selama seminggu lebih berada di sana gue menumpang di rumah penduduk yang bernama Wa’ Ailin. Beliau adalah seorang pria paruh baya yang hanya tinggal dengan istrinya karena anak-anaknya sudah gede semua. Mereka baik banget mau menerima pendatang seperti gue selama berhari-hari (dikasih makan juga lagi). Eits..! Bukannya gue mau cari yang gratisan ya, tapi memang penduduk di sana ngga lazim menerima pembayaran uang saat lagi menerima tamu dari luar. Tapi meski begitu, kita sebagai tamu paling ngga juga membawa bahan makanan sendiri sehingga ngga terlalu merepotkan sang tuan dan nyonya rumah. Syukur-syukur kalo bawa makanan lebih untuk diberikan ke mereka, ditambah beberapa bungkus rokok, dijamin mereka akan menerima kita dengan senang hati, ngobrol-ngobrol pun jadi lebih akrab.

Di rumah seperti inilah gue menginap disana selama seminggu
Eniwei..memangnya gue kesana penelitian apa siyy?? Hehe..semua berawal dari perut manusia (bingung kan..??) Jadi karena perut manusia butuh makan, dan makanan pokok kita adalah beras eh, nasi, maka gue merasa perlu untuk meneliti padi (Halahh..belibet bener ngejelasinnya..) Intinya mah gue meneliti lumbung padi orang Baduy yang disebut Leuit. Kok, back to basic? Iyalah, kan dasar-dasar keilmuan kita mulanya dari cara-cara tradisional orang-orang dulu. Cuman karena dulu orang hanya tau gimana caranya, maka kitalah orang sekarang (ehm..) yang musti cari tau sebabnya kenapa. Jadi biar ada penjelasan secara ilmiahnya gitu.

Ya udahlah, gue juga ngga mau ngomongin panjang-lebar tentang penelitian disini, karena jujur aja udah agak lupa, hihi..Tapi ceritanya disana gue berhari-hari pergi ke lumbung padi, dari pagi ke sore, taro alat ukur disana-sini dan catet-mencatet data seharian dan…sendirian. FYI lagi, lumbung-lumbung padi orang Baduy letaknya jauh dari pemukiman penduduk dan dekat dengan hutan belantara. Kebayang lah gimana susahnya hari-hari gue saat ngambil data disana. Hiiyy..!! Di hutan sendirian kan suka kebayangnya yang macem-macem. Untung aja ngga ada kejadian aneh atau membahayakan selama gue ngambil data, misalnya diganggu makhluk halus (atau kasar). Dan juga ngga ada satupun hewan buas yang gue jumpai disana selain beberapa jenis burung hutan dan si kaki seribu yang ukurannya segede spidol marker (itu makannya apa yah??).

Leuit - lumbung padi yang gue teliti
Overall, tinggal di kampung Baduy cukup mengesankan buat gue dengan segala keterbatasannya. Meski selama disana gue terpaksa nahan 'be-ol' karena ngga biasa melakukannya di alam terbuka (disana ngga ada wc-Red). Tiap malem gue juga terpaksa tidur sambil menggigil karena dinginnya minta ampun (tapi herannya ngga banyak nyamuk loh). Bangun pagi tiap hari dengan badan pegal karena ngga ada kasur. Makan pun harus puas dengan nasi dingin dan lauk seadanya (didominasi ikan asap). Dan gue juga terpaksa harus terisolasi dari dunia luar karena ngga ada sinyal handphone dan listrik. Ya, bener-bener pengalaman yang ngga akan gue lupa sampai kapan pun. Seandainya gue kesana lagi tapi murni untuk berpetualang dan bukan penelitian, mungkin gue akan lebih menikmati suasananya, apalagi kalo bareng teman-teman. Ada yang mau kesana bareng??

PS: Jelajah Baduy cocok banget buat yang suka hiking, karena untuk menuju kampung terluarnya aja kita musti jalan naik-turun bukit selama berjam-jam. So, prepare your body first  before you go there..

2 komentar:

Ade Arisandi said...

"Meski selama disana gue terpaksa nahan 'be-ol' karena ngga biasa melakukannya di alam terbuka"
Berapo hari bud di sano? XD

Budi Septiawan said...

haha..bagian situ yang kw perhatiin..semingguan aku disano de, bayanginlah nahannyo..

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...