Friday, July 20, 2012

The Amazing Spider-Man : A Reboot of An Expensive Franchise

Ini merupakan momen yang paling ditunggu selama empat tahun dari kemunculan terakhir film Spidey, terutama bagi para penggemar aksi sang pahlawan bersenjata jaring ini. Meski bukan sebuah sekuel dari film “Spider-Man 3” dan justru sebuah rombak total dari cerita tokoh superhero yang sama, "The Amazing Spider-Man" tetaplah membuat penasaran para penikmat film (ya ngga??).

Karakter kolaborasi Tobey Maguire dan Kirsten Dunst sebagai Peter Parker dan Mary Jane Watson sebenarnya agak sulit dilepaskan dari cerita pahlawan laba-laba ini. Apalagi bagi yang sudah mengikuti kisahnya dari film pertama tentu sempat meragukan keberhasilan reboot ini. Salah satunya karena rentang waktu dari kemunculan awalnya di tahun 2002 hingga saat ini yang bisa dibilang cukup lama. Tentulah ada penggemar setia film Spidey yang dahulu masih anak-anak lalu saat ini mungkin sudah menjadi dewasa.

Langkah para filmmaker kali ini layaknya sebuah aksi ‘cuci otak’ bagi para penonton, bukan hanya dari pergantian tokoh-tokoh utamanya, tetapi juga dari sisi ceritanya yang mengalami ‘sedikit’ perubahan. Meskipun alur cerita yang berbeda ini katanya justru berdasarkan seri komik “Ultimate Spider-Man” karya Brian Michael Bendis.

Perbedaan-perbedaan dari sisi cerita yang muncul dari film-film Spidey sebelumnya berkisar pada asal-muasal sang remaja belasan tahun yang tiba-tiba bisa memiliki kemampuan khusus. Memang kemiripan ceritanya masih ada, yaitu keterlibatan si laba-laba yang ‘iseng’ menggigit tokoh utama di cerita ini. Tapi untuk lokasi, momen, dan bahkan love interest sang Peter Parker juga mengalami perubahan. Lupakan sosok cantik Mary Jane, karena kali ini ada Gwen Stacy yang juga ngga kalah menarik ... J

Perbedaan paling mendasar ada pada kemampuan sang manusia laba-laba itu sendiri. Aksi lincahnya melompat dan berayun kesana-kemari masih bisa disaksikan para penonton (tentu akan sangat aneh kalo ini juga dihilangkan), jaring laba-labanya pun masih jadi senjata setia superhero berkostum ketat ini (laba-laba tanpa jaring juga ngga lucu kan). Tapi perkara dari mana asal jaring laba-laba lentur tapi kuat itulah yang diubah oleh Mark Webb, sang director. Perubahannya agak drastis, dari organik ke sintetis.

Meski keduanya tetap saja absurd bagi pemikiran orang awam, jaring laba-laba sang superhero yang dulu bisa keluar dari tubuhnya sendiri, kini berasal dari sebuah alat penembak jaring yang diciptakan oleh Parker sendiri. Apakah mutasi biologisnya kurang berhasil? Entahlah, yang pasti jaring laba-laba yang dimiliki masih mumpuni sebagai senjata tunggal sang manusia laba-laba dalam bertarung melawan musuh-musuhnya.

Webb sang sutradara mungkin ingin lebih menonjolkan kejeniusan seorang Peter Parker seperti dalam hal inovasinya menciptakan alat penembak jaring dan kostum khusus superhero (Hmm..ngga mudah jadi seorang superhero ya?).

Karakter Peter Parker dalam film Spidey kali ini meski masih dalam sosok remaja muda namun sudah memiliki intensitas konflik batin dan emosi yang cukup tinggi. Dengan wajah teen-look dan innocent yang kadang harus dipadukan dengan ekspresi serius pada saat-saat tertentu di dalam film, sosok Andrew Garfield yang belum begitu familiar sebenarnya sudah cukup mewakili karakter Parker yang baru ini. Anyway siapa sangka sang aktor yang usianya 29 tahun sebenarnya ngga bisa disebut remaja lagi.

Menemani tokoh utama dalam petualangan heroiknya, sosok Gwen Stacy yang diperankan oleh Emma Stone cukup dominan muncul di film ini. Masih dengan stereotip pirang-cantik tapi pintar, Emma Stone sangat bisa memikat penonton dengan kepiawaian aktingnya sebagai Gwen Stacy. Lalu dimanakah Mary Jane? Well, mungkin kelanjutan film ini yang akan menjawab pertanyaan itu.

Secara keseluruhan, The Amazing Spider-Man cukup sukses menjadi reboot dari trilogi Spidey sebelumnya. Paling ngga kita berhenti mengharapkan kemunculan aksi Tobey Maguire lagi sebagai manusia laba-laba (Untung saja Daniel Radcliffe sanggup bertahan hingga Harry Potter terakhir).

Efek 3D pada film ini ngga jauh berbeda dengan film-film lain yang juga mengusung teknologi 3D, hanya saja sang sutradara cukup bijak dengan menyematkan efek 3D pada adegan-adegan tertentu saja, sehingga penonton akan lebih fokus melihat setiap adegan di dalam film. Penonton juga akan mengalami sensasi ‘shocking’ saat efek 3D itu muncul di beberapa fighting scene yang memang perlu diberikan efek 3D.

Musik memang unsur penting dalam film-film aksi seperti ini, dan music score yang ada di The Amazing Spider-Man berhasil membuat gue merinding. Well, let me borrow your thumb, ‘coz I’ll give five thumbs for this fantastic movie..! =D>

Penasaran? Simak aja trailernya :



NB:
Kecenderungan penegak hukum yang susah diajak bekerjasama seringkali muncul dalam film-film action terutama di film ini. No offense, tapi jujur gue sempat sebel banget sama polisi sepanjang menonton film ini.

2 komentar:

Bay[u]bay said...

haha polisi...polisi :)

batman udah kan,,,mantep ya,,, mungkin secara inti cerita udah byk di film2 lain, menghalangi bom nuklir terjadi. tapi kemasannya suka banget, pshyco thriller yg bikin merinding, dari dulu mulai musuh nya si crane, joker ampe bane.

Budi Septiawan said...

He-eh nih polisinya..drive me crazy /floor

Ada ide juga sih bikin ulasan batman, film 'megah' begitu kan..ntar deh nungguin mood nulisnya..i'll inform you soon.. ;)

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...