Thursday, April 19, 2012

Ekspedisi Mandalawangi (Peak of Pangrango) – Pt. 4

Hari itu kami akan melanjutkan perjalanan sampai ke puncak Pangrango hanya dengan membawa muatan seperlunya. Sisa barang-barang dan kemah tetap kami tinggalkan di 'kerikil' agar pendakian selanjutnya terasa lebih ringan. Memang di hari minggu itu kami hanya punya waktu sedikit menuju puncak gunung sebelum akhirnya turun lagi dan pulang ke Jakarta. Sambil mendaki, gue sesekali melihat ke sekeliling, dan gue mendapati beberapa view yang luar biasa yang bisa dilihat dari ketinggian itu.

Berada sejajar dengan Awan ngga selalu dari dalam pesawat terbang
Pengennya merenung berjam-jam sambil melihat semua ini
View seperti ini ngga kita lihat tiap hari kan..
Medan pendakian yang ditempuh lebih banyak berupa tebing bebatuan yang curam namun sudah sedikit pepohonannya. Sesekali gue berhenti untuk sekedar menikmati pemandangan pegunungan sekitar sambil beristirahat. Semakin dekat ke atas, semakin rimbun semak dan pohon yang ada. Terkadang gue mulai merasa deja vu karena menemui situasi pendakian seperti sebelumnya. Gue sempat mengira pendakian ke puncak ini akan memakan waktu berjam-jam. Tapi kemudian gue bersyukur karena akhirnya kami sampai juga ke puncak hanya dalam waktu lebih kurang satu jam.

Jenis tumbuhan yang ditemui saat di puncak
Disana kami ngga berlama-lama, tapi terus berjalan kaki sebentar menuju ke lembah Mandalawangi. Sebuah tempat yang membuat gue sejenak menahan nafas saat pertama kali menjejakkan kaki kesana. Sekilas Lembah Mandalawangi mungkin hanyalah hamparan tanah datar yang cukup luas. Tapi karena ditumbuhi oleh rimbunan tumbuhan Edelweis, membuat lembah ini terlihat begitu eksotis. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 3.000 m dpl, membuat gue merasa di dimensi lain. Well, tempat ini memang membuat gue merasa begitu sentimentil, ngga heran Soe Hok Gie seringkali menghabiskan waktu sendirian disini untuk sekedar merenung.

Seperti berada di negeri antah-berantah, feel peacefully
Lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango
Disana-sini tumbuh Edelweis..sang bunga abadi

Bayu dan Ardi - A person who brought us to Mandalawangi
Ada sebuah video pendek yang gue ambil saat berada di lembah Mandalawangi, just wanna convince you it was really real.

video

Sebenarnya gue ingin lebih berlama-lama di lembah ini, tapi Ardi dan teman-teman mengajak jalan lagi ke dataran yang lebih tinggi yang katanya tempat paling puncak di Pangrango. Tempat itu letaknya ngga terlalu jauh dari lembah Mandalawangi. Meski jalanannya agak menanjak, tapi kami ngga perlu susah payah lagi mendaki. Hanya sekitar sepuluh menit, sampailah kami ke suatu tempat yang berada di pinggiran puncak gunung dengan pemandangan tebing dan pegunungan di kejauhan. Disana ada sebuah pondok yang hanya berupa rangka kayu dan atap, mungkin seringkali dimanfaatkan para pendaki untuk tempat beristirahat. Ada pula sebuah tugu batu kecil bercat hijau yang penuh dengan tulisan nama-nama orang yang pernah mencapai puncak Pangrango itu. Mungkin disinilah titik yang memiliki ketinggian 3.019 m dpl. It makes you wanna yell out loud there.

Sebuah pondok yang entah siapa dulu yang membangun.
Pose di samping tugu batu yang penuh coretan disana-sini
Kami yang saat itu hanya punya waktu ngga begitu banyak masih menyempatkan untuk duduk-duduk dulu sebentar disana. Berbekal minuman sari jeruk, makanan ringan dan buah semangka, kami sekedar ngobrol-ngobrol ringan sambil menikmati udara pegunungan yang ngga perlu diragukan lagi kesejukannya. Anyway, tanpa dimasukin ke kulkas, minuman dan semangkanya jadi dingin banget loh..lumayan seger pas dinikmatin setelah capek-capek keringatan mendaki. Untuk mengimbanginya, kami juga bawa minuman hangat biar badan ngga kedinginan. Sayang cuacanya saat itu kurang begitu cerah, jadi pemandangan sekeliling kadang terhalang lapisan kabut putih. 
Mari-mari dimakan semangkanya, seger banget loh..
Inilah suasana saat sedang beristirahat di puncak.
video

Kami menghabiskan waktu di puncak hanya sampai jam sembilan pagi, karena siang harinya sudah harus turun gunung lagi mengejar waktu sebelum terlalu malam. Saat tiba di 'kerikil' kami menyempatkan dulu makan siang dan menambah persediaan air minum yang diambil langsung dari mata air gunung. Ketika baru mulai berjalan lagi, gue sempat merasa skeptis mengingat jalur yang ditempuh adalah jalur yang sama dengan saat mendaki. Tapi kemudian karena diberitahu teman kalau pas turun akan berasa lebih cepat, gue jadi ngga ragu lagi. Dan meski begitu sampai ke bawah hari sudah gelap, saat turun memang memakan waktu lebih cepat. Walaupun sempat bingung cari jalan saat di ladang penduduk dan ditambah basah kehujanan, kami akhirnya sampai juga di pangkalan angkot. Tiba ke rumah pun sudah hampir jam 12 malam.
P.S. : Di rumahnya Bayu gue ngga sempat tidur sama sekali karena jam 3 dini hari taksi ke bandara sudah siap menjemput untuk mengejar penerbangan pertama ke Palembang biar bisa tetap masuk kerja hari Senin itu. Can you imagine how tired I was.??
 Baca juga sebelumnya : Ekspedisi Mandalawangi (Peak of Pangrango) – Pt.1

2 komentar:

Bay[u]bay said...

deskripsi yg bagus.. jd inget lagi :

Budi Septiawan said...

He-eh..jadi inget lagi, hehe..yuk ke gunung lagi rame-rame..

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...