Tuesday, April 17, 2012

Ekspedisi Mandalawangi (Peak of Pangrango) – Pt. 3

Istirahat di lembah berpacet kemudian kami akhiri setelah merasa cukup mengisi perut dan siap kembali melanjutkan perjalanan. Formasi awal masih seperti semula. Kali ini gue ngga terlalu memforsir tenaga untuk berjalan menyusul Ucok dan Heri. Disamping karena tenaga yang memang sudah banyak terkuras, hari yang semakin sore mulai bikin gue agak mengantuk. Otot-otot kaki pun terasa semakin menjerit dan membuat langkah kaki semakin terseok-seok. Beberapa kali gue putuskan berhenti sejenak untuk beristirahat sambil sesekali memeriksa kaki kalau-kalau ada pacet yang menempel. Benar saja, entah kapan makhluk kecil itu hinggap, di kaki gue sudah ada beberapa ekor pacet yang menempel ketat di kaos kaki. Serangan pacet ini benar-benar di luar perkiraan gue, sampai-sampai waktu itu gue mikir, mestinya lain kali gue pake sepatu bot aja biar lebih terlindungi.

Saat hari sudah semakin gelap rasanya sudah beribu-ribu langkah berjalan tanpa tau tanda-tanda tujuan masih dekat ataukah masih jauh. Katanya kalau hari sudah gelap begini kita bisa mengalami halusinasi, apalagi ditambah rasa lapar dan haus. Meski ngga mengalaminya, tapi berkali-kali ketemu jenis pohon dan tanjakan yang sama buat gue rasanya ngga jauh beda dari halusinasi. Sama-sama mengecoh dan bikin capek. Melihat ke arah puncak-puncak pohon justru ngga membantu. Karena cahaya yang terang di kejauhan seakan memberi kita harapan kalau puncak gunung sudah semakin dekat, padahal setelah menunggu sampai berpuluh-puluh langkah puncak itu belum juga kelihatan. Jadi gue putuskan lebih baik terus saja melangkah dan memperhatikan jalanan tanpa terlalu banyak melihat ke atas. Ngga terasa partner gue berjalan saat itu hanyalah Bayu. Ardi kayaknya udah lama nyusul dan jalan jauh di depan kami. Ia hanya sempat bilang agar terus berjalan sampai ke sebuah tempat datar yang tanahnya berkerikil. Di tempat itulah kami akan kembali berkemah. Berbekal headlamp untuk menerangi jalan di depan, gue dan Bayu lebih banyak diam di perjalanan sambil menyeret kaki-kaki kami yang rasanya semakin berat.

Bermenit-menit hanya jalan berdua dengan Bayu, akhirnya kami ketemu juga dengan teman-teman lain yang sedang beristirahat. Meski cukup datar, tapi karena agak sempit kelihatannya tempat ini bukan yang dimaksud Ardi tadi. Gue dan Bayu yang baru bergabung langsung disambut dengan minuman hangat yang saat diminum rasanya sedikit melegakan. Sepuluh menit kemudian kami jalan kembali menuju tanah kerikil. Karena sudah terlalu gelap, kami usahakan tetap bersama-sama. Gue dan Bayu yang paling lambat berada di tengah biar ngga ketinggalan lagi. Setelah jalan lima belas menit, sampai jugalah di 'kerikil', sebuah areal datar dengan tanah berkerikil yang cocok untuk tempat bermalam hari itu. Hufth..!! Ngga bermaksud mengeluh, tapi rasanya itu lima belas menit terlama yang pernah gue alami.

Kalau ditanya seberapa dinginnya udara malam itu, yang pasti bikin gigi bergemeletuk dan menggigil. Makanan dan minuman hangat yang disiapkan teman-teman benar-benar terasa nikmat. Flysheet dipasang sedemikian rupa agar bisa melindungi dari arah angin yang bisa menambah dingin. 'Persenjataan' sebelum tidur ditambah berlapis-lapis agar badan ngga kedinginan, dari mulai pakaian biasa, celana panjang, jaket hangat, sarung tangan, kaus kaki, sarung dan masih dibungkus lagi dengan sleeping bag.

Pagi yang sama dinginnya dengan malam menyapa di keesokan harinya. Gue berusaha bangun dan mencari kehangatan sinar matahari pagi untuk menghalau dingin. Suasana hutan yang tenang dengan udara pagi berembun yang sejuk memang kombinasi yang susah dicari bandingannya. Sejenak gue hanya menikmati berdiam diri tanpa melakukan dan memikirkan apapun selain mendengarkan suara alam yang benar-benar menenangkan. Ada yang bilang, berbagi waktu dengan alam akan membuat kita tau hakikat manusia yang sebenarnya. Manusia kadang lupa bahwa dirinya bukanlah satu-satunya makhluk penguasa di planet bumi ini. Manusia kadang mengabaikan keberadaan makhluk lain yang juga berbagi tempat hidup dengan mereka. Manusia hendaknya lebih menjaga keseimbangan lingkungan dan alam sekitarnya, agar bumi ini masih tetap layak menjadi tempat hidup seperti sejak awal manusia menempatinya.

Indahnya pagi di pegunungan
Suasana hutan yang menyejukkan seperti ini sudah jarang kita nikmati
'Pancaran Garis Tuhan' ini mungkin seringkali kita abaikan

4 komentar:

Bay[u]bay said...

mengharukan bagian ini.. ingat kata2 "jalan aja" trnyata hrs pantang mundur ya.

Budi Septiawan said...

ada something 'emotional' pada saat-saat ilusi 'ngga nyampe-nyampe'..padahal ternyata semuanya cuma butuh keyakinan kuat aja..

Bay[u]bay said...

dan kita cukup kuat hahahah

Budi Septiawan said...

haha..sebagai pemula mestinya kita dapet sertifikat ya..

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...